23 Februari 2013

Our Relationship




Bandung, Oktober 2008…
Sore itu gerimis deras membahasi kota Bandung. Orang-orang hilir mudik mencari tempat perlindungan yang aman sebelum hujan lebat tiba di bumi. Tak terkecuali dua remaja berseragam SMA yang sedang berlarian cepat mencoba sampai di halte yang ada tak jauh dari mereka berlari.
“Akhirnya sampai juga.” Ucap Rian dengan napas tersenggal-senggal. Diliriknya gadis di sebelahnya yang masih mengatur napas. “Lo baik-baik aja, kan?” tanya Rian.
Tari menatap lelaki di sebelahnya dengan garang. Ia menggembungkan pipinya kesal kepada temannya dan berkata, “Kamu pikir tenaga cewek itu sama kayak cowok? Cuma gerimis aja kamu larinya kayak orang kesetanan. Apalagi aku larinya sama Rian Prasetya si juara lari tingkat provinsi. Dasar.” Omelnya dengan napas yang masih setengah-setengah.
Rian hanya tertawa kecil menanggapi omelan yang diterimanya. “Maaf.” Sesalnya, yang hanya dibalas dengusan kasar oleh Tari. “Tapi kalo kita nggak cepet-cepet, nanti hujannya tambah jadi lho.” Tambah Rian sambil melihat langit yang mendung.
“Mana ada yang tahu, Rian. Hujan itu bukan kamu yang ngatur. Bisa aja gerimisnya berhenti.” Sungut Tari kesal.
Tepat saat Tari menyelesaikan omongannya, hujan deras pun datang. Angin pun ikut memeriahkan cuaca yang sedang buruk itu. “Liat kan, gue bilang juga apa.” Ejek Rian sambil tersenyum penuh kemenangan.

Tari mendecakkan lidahnya kesal menatap guyuran hujan disekelilingnya. Diliriknya jam tangan yang ia ambil dari saku roknya. “Jam 4.” Gumamnya pelan.
Rian melirik kearah Tari. “Masih hujan, Tar. Lo mau nekat basah-basahan? Gue sih ogah. Udah, tunggu reda aja.” Kata Rian seakan tahu kecemasan Tari.
“Tapi ini gelap, Rian. Kapan aku sampai rumahnya? Ini baru jam 4, tapi gelapnya kayak jam 6.” Keluh Tari.
“Sabar ajalah, Tar.” Saran Rian.
“Kalau berhentinya lama gimana?”
“Ya sabar lagi aja.” Ucap Rian acuh.
Sontak saja Tari menendang tungkai kaki Rian dengan keras. Rian yang langsung meng-aduh kesakitan pun tak dihiraukannya. Dengan acuhnya, Tari malah mengutak-atik ponselnya mencoba memberi pesan singkat ke salah satu anggota keluarganya untuk menjemput di halte.
“Emang buru-buru mau ngapain sih?” tanya Rian penasaran.
“Nggak. Cuma nanti temennya Mama mau dateng.” Jawab Tari.
“Temen Mama Lo yang dateng, terus kenapa jadi Lo yang ribut?”
“Oh itu. Anaknya temen Mama juga temen lamaku. Temen masa kecil dulu.” Jelas Tari sambil tersenyum kecil.
“Cowok?” tanya Rian.
Tari mengangguk menjawabnya. Matanya tetap tak beralih dari hujan yang masih ia perhatikan. Ia pun tak sadar perubahan raut muka Rian. Rian menatapnya dengan pandangan penuh tanya seakan ada banyak pertanyaan yang ingin ia ajukan pada gadis di sebelahnya.
Satu  bunyi klakson memecah keheningan yang ada di antara mereka. Sebuah mobil berwarna silver berhenti tepat di depan keduanya berdiri. Tak lama pintu kemudi mobil itu terbuka, menampakkan sesosok wanita muda dengan memegang payung berwarna merah.
Teh[1] Dita!” seru Rian dan Tari kompak.
Dita tersenyum lebar menatap Rian dan Tari lalu berjalan menghampiri mereka. “Kalian belum pulang? Mau bareng?” tawar Dita yang dibalas anggukan oleh Rian. Sedangkan Tari hanya terdiam memikirkan jawabannya.
“Tari nggak mau bereng teteh?” Tanya Dita lagi.
“Tapi Tari udah minta jemput orang rumah, Teh. Sebentar lagi mereka datang.” Tolak Tari halus.
“Kalo gitu gue temenin Lo dulu aja sampe mereka dateng deh. Teh Dita, kalo mau duluan, duluan aja. Aku nunggu Tari sampai dia dijemput.” Ucap Rian.
“Eh nggak usah. Kamu pulang aja sana. Mumpung ada Teh Dita. Kan rumah kalian dekat.” Bujuk Tari.
“Kamu yakin mereka sebentar lagi dateng?” tanya Dita memastikan.
Tari mengangguk pasti  lalu berkata, “iya. Tadi aku udah sms mereka.”
“Oh. Ya udah. Ayo Teh, kita pulang sekarang aja.” Ajak Rian. Diliriknya sekilas Mika yang masih berusaha meyakinkan Dita untuk segera pulang.
“Kalau gitu, kami duluan ya.” Pamit Dita.
Mobil silver itu pun berlalu pergi meninggalkan halte. Meninggalkan Tari yang menunggu sendirian. Tak lama sebuah mobil hitam berhenti di depan Tari. Begitu menyadarinya, Tari pun langsung memasuki mobil yang akan membawanya ke rumah.
***
Tari menatap laki-laki di depannya dengan tatapan tak percaya. Ia pun tak sadar jika ia belum berkedip sama sekali sejak melihat lelaki itu berdiri di hadapannya.
“Kamu Adit?” Tanya Dita memastikan.
Lelaki yang di panggil Tari ‘Adit’ itu hanya mengangguk menjawab pertanyaan bodoh yang dilontarkan Tari. “Kau lupa? Tentu saja aku Adit.”
“Tak kusangka kamu banyak berubah. Dulu itu kamu hitam, pendek, gendut. Tapi sekarang kamu jadi……”
“Putih, tinggi dan tampan?” tanya Adit sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
Tanpa sadar Tari pun mengangguk sambil tetap menatap Adit dengan penuh takjub. Ia baru sadar saat Adit tertawa kecil melihatnya memandangi dirinya seolah-olah akan memakannya.
“Kamu juga berubah.” Ucap Adit.
“Masa, sih? Tapi kayaknya dulu aku nggak gendut deh. Kulitku juga nggak hitam. Walaupun aku pendek sih.” Bela Tari sambil mengingat-ingat dirinya saat masih kecil. “Terus aku berubah ap-“
“Kamu lebih cantik.” Ucap Adit memotong ocehan Tari. Diberikannya senyum manis kala ia mengucapkan pujian itu.
Deg! Jantung Tari seakan berhenti mendengar pujian Adit yang ditujukan kepadanya. Tanpa ia sadari pipinya bersemu merah. Ditundukkannya kepalanya mencoba menutupi semburat merah di wajahnya agar tak ketahuan Adit. Tapi sayangnya, Adit yang terus memperhaikan wajah Tari sedari tadi mengetahuinya.
“Pipimu merah.” Goda Adit sembari menunjuk pipi kanan Tari.
***
Rian menatap layar ponselnya dengan malas. Moodnya mendadak buruk setelah membaca isi sms yang diterimanya dari Mita : Rian, minggu besok  aku harus latihan untuk lomba. Maaf. Aku akan menghubungimu secepatnya.
“Batal lagi?” dengusnya kesal.
Dipandangnya langit-langit kamar menerawang. Pikirannya terbang kemana-mana. Saat ini ia sangat butuh ketenangan. Mengingat hari ini cukup melelahkan karena tadi ia harus menyiapkan segala sesuatu untuk pensi ulang tahun sekolah bulan depan, ditambah masalahnya dengan Mita. Mita bukan pacar Rian, mereka hanya berteman, yah teman dekat. Tapi nyatanya, Rian menyadari jika ia mempunyai perasaan ‘khusus’ untuk Mita. Bisakah disebut suka? Mungkin saja.
Bunyi dering ponsel mengusik lamunannya. Dirabanya sekitar tempat tidurnya mencoba menemukan ponsel yang tadi dilemparnya asal. Ketemu! Ucapnya dalam hati. Tanpa melihat siapa peneleponnya Rian mengangkat ponselnya ke samping telinga.
“Halo?.... oh, lo Tari. Kenapa?  ....Cuma itu?.... kenapa harus gue sih?.... gue usahain besok deh…. iya tapi gue nggak janji…. ya… iya…. hm.” Sambungan telepon terputus. Setelahnya Rian mengerang kesal. “Cewek itu nyusahin ya?” keluhnya pada diri sendiri.
Baru saja Tari menelepon agar Rian mau menemaninya membeli kado untuk temannya. Dan pasti Rian akan diajak ke mall ataupun toko-toko dengan latar belakang hal-hal yang penuh dengan tema pink, boneka, bunga yah semua yang baginya terlalu berlebihan untuk digunakan sebagai pajangan kamar.
Rian berusaha memejamkan matanya untuk tertidur. Satu menit. Dua menit. Tiga menit. Empat menit, dan  mata itu pun kembali terbuka. Ia mendengus pasrah dan menggumamkan sesuatu yang hanya dapat  didengarnya sendiri.
***
Tari menarik, ah bukan! lebih tepatnya menyeret Rian untuk tetap mengikutinya menuju stan-stan yang ada di mall. Matanya tak lepas melihat-lihat barang apa saja yang sekiranya pantas untuk dijadikan kado ulang tahun temannya. Sesaat pandangannya tertuju pada etalase toko yang memajang sebuah topi fedora berwarna abu-abu. Senyum manis tercetak jelas dari wajah cantiknya. Serta merta, ia kembali menyeret Rian untuk memasuki toko tersebut. Sedangkan Rian selaku korban penarikan Tari, hanya pasrah mengikuti arus yang diciptakan gadis itu.
“Buat siapa sih, Tar? Emang temen Lo suka pake topi kaya gitu ya?” tanya Rian saat Tari membawa topi itu ke kasir.
“Buat Adit.” Jawab Tari singkat tanpa menoleh ke Rian.
Rian mengerutkan keningnya. “Adit siapa?”
Tanpa menjawab pertanyaan yang dilontarkan Rian, Tari langsung mengajak Rian keluar dari toko tersebut karena barang yang tadi dipilihnya sudah selesai dibayar.
“Tar, Adit itu siapa?” tanya Rian saat mereka sudah berjalan jauh meninggalkan toko.
Tari melirik sekilas Rian yang masih menatapnya penasaran. “Adit itu anak temennya Mama yang waktu itu aku ceritain.”
“Oooh. Terus kap-“
“Rian ayo makan. Laper nih.” Seru Tari memotong ucapan Rian.
Tanpa persetujuan Rian, Tari pun segera menggamit tangan Rian dan menuntunnya menuju food court yang ada di depan mereka.
Rian mendecak kesal melihat tingkah Tari yang tak kenal penolakkan. Seenaknya, lagi-lagi motong pembicaraan orang.
***
Bandung, November 2008..
Rian menyeruput jus mangga yang disediakan di rapat Osis. Sore itu, beberapa anggota Osis disibukkan dengan rapat dan persiapan untuk pensi besok. Rian menata beberapa berkas yang baru saja ditelitinya. Matanya memeriksa segala persiapan yang sedang dikerjakan beberapa temannya.
“Hari ini kita lembur. Minimal kita udah selesai 75% sebelum pagi besok dilanjutin. Oke?” Seru Rian mengingatkan.
“IYA!!!!”
Rian mengelap keringat di sekitar pelipisnya dengan saputangan. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan Osis itu. Semua temannya sibuk mengerjakan tugas mereka masing-masing. Pandangannya tertuju pada Mita yang sedang sibuk menggunting kertas warna-warni menjadi potongan kecil. Ia pun segera menghampirinya.
“Hei.” Sapa Rian sambil tersenyum kecil.
Mita menolehkan pandangannya kearah Rian. Ia membalas senyuman Rian. “Halo, Pak Ketua.”
Rian terkekeh kecil mendengar sebutan yang diucapkan Mita untuknya. “Gue belum jadi bapak-bapak, Mit.”
Mita tertawa kecil mendengar sahutan Rian. Ia menggeser duduknya, menyuruh Rian untuk duduk disebelahnya.
“Gue nganggur. Mau gue bantu?” tawar Rian yang kemudian dibalas dengan anggukan oleh Mita.
Rian menyenderkan badannya ke sandaran kursi di belakangnya. Diambilnya beberapa kertas origami dan sebuah gunting kemudian mengguntingnya. Sesekali diliriknya Mita yang masih tetap fokus pada pekerjaannya. Tanpa ia sadari, seulas senyum tipis hadir dibibirnya.
“Oh iya. Rian, aku minta maaf soal kemaren.” Ucap Mita.
Rian menghentikan kegiatannya. Diliriknya Mita dengan penuh tanda tanya. “Soal apa?”
“Janjian kita yang batal.”
Rian terdiam sejenak. Tak lama kepalanya mengangguk pelan. Ia lantas tersenyum kecil pada Mita. “Oh itu. Kirain apa. Udah nggak usah dipikirin. Gue juga udah lupa kok.” Ucap Rian enteng.
Mita tersenyum kecil. Ia melanjutkan pekerjaannya menggunting kertas yang tadi sempat tertunda. “Emangnya kamu nggak ngajak Tari buat pergi?” tanya Mita tanpa mengalihkan pandangannya.
“Bukan gue yang ngajak Tari buat pergi, Mit. Tapi dia. Malahan dia yang maksa.”
“Kalian pergi kemana?”
“Nyari kado buat temennya Tari.”
“Ooh.”
Sebuah tepukan kecil dibahu Rian dan Mita mengintrupsi kegiatan mereka.keduanya menoleh ke arah si pemilik tangan. Dilihatnya seorang gadis  yang sedang tersenyum lebar menatap mereka. Tari.
“Ganggu nggak?” tanya Tari sambil mengerling nakal ke arah Rian.
Rian menatap sinis Tari yang sedang tersenyum mengejek padanya. “Ngapain lo? Bukannya lo mau nge-date sama siapa itu,,,,, oh, Adit.”
“Ih Rian. Kok, nadanya sinis gitu, sih? Memangnya kapan aku bilang mau nge-date  sama dia?”
Rian hanya mengedikkan bahunya. Ia melanjutkan kembali kegiatannya menggunting kertas yang tadi sempat terhenti.
“Adit siapa Tar? Pacar?” tanya Mita yang sedari tadi memperhatikan kedua temannya.
“Bukanlah, Mit. Dia temen masa kecil aku pas TK dulu. Tau nggak? Dia cakep lho. Mau aku kenalin?” tawar Tari sambil menaik-turunkan kedua alisnya.
Mita terkikik pelan mendengar celotehan Tari. “Yang bener, Tar? Boleh tuh.”
Sementara itu, Rian hanya menggelengkan kepalanya pasrah menyaksikan dua perempuan didepannya yang terlarut dalam pembicaraan satu topik, ADIT. Ia mendengus kasar.
 Dasar Tari nyebelin.
***
Tari menatap layar ponselnya sendu. Ia kembali membaca sms yang diterimanya dari Rian. Dibuangnya napas kasar. Hanya beberapa kata yang diterimanya, tapi hal itu sudah bisa membuatnya kehilangan butiran kesenangan beribu-ribu jumlahnya : Setelah pensi selesai, gue mau nembak Mita. Menurut lo gimana?.
Tari hanya tersenyum miris melihatnya. Ada sebutir air mata yang sekarang sedang bersemayam di sudut matanya. Diketiknya beberapa kata untuk membalas sms : Oh. Good luck yaa.
Satu tetes air mata turun membasahi pipinya seiring dengan terkirimnya pesan singkat itu. Tak lama, ponselnya kembali berbunyi, bukan nada sms,  tapi telepon, dari Rian.
Dengan satu tegukan lidah dan deheman kecil, Tari mencoba berbicara senormal mungkin agar suara paraunya tak terdengar Rian.
“Apa, Rian?” sapa Tari saat mengangkat telepon.
“Widih, Tari. Masa’ nggak ada basa-basinya, sih. Bilang ‘halo’ atau apa gitu, kek.” Sahut Rian di seberang telpon.
Tari hanya tersenyum masam mendengar sahutan Rian. “Kamu mau bilang apa? Cepet bilang sekarang! Aku ngantuk nih.”
Aku nggak ngantuk, Ri. Aku cuma lagi nggak mau ngedenger suara kamu.
“Hahaha. Iya deh, maaf. Lo jawab sms gue datar sangat sih, Tar. Lo nggak mau ngasih tips-tips ampuh buat gue gitu?”
“Nggak. Harusnya itu naluri ilmiah, Ri.” Seru Tari.
Iya, aku nggak mungkin ngasih saran buat kamu yang mau nembak orang lain, kan, Ri?
“Idih, Tari. Perasaan gue, dari tadi lo sinis-sinis gitu sama gue ya? Kenapa lo?”
“Aku nggak apa-apa.”  Tari mendengus kasar.
Aku cuma nggak terima kalo kamu suka sama Mita atau siapapun itu.
“Ooh, ya udah kalo lo nggak mau cerita. Oh iya! Lo sama Adit gimana? Gue penasaran. Lo suka sama Adit nggak, sih?  Kok lo nggak pernah cerita sama gue?.”
“Itu bukan urusanmu, Rian. Aku kan udah bilang, Adit itu temenku. Dan aku nggak punya perasaan apa-apa sama dia.”
“Yang bener, Tar?”
“Bener, Ri.” Tari mendengus kesal.
Aku nggak bohong, Rian.
“Gue rasa sih, lo suka sama si Adit, Tar. Dari bulan lalu sejak lo cerita soal si Adit ke gue, gue sering ngeliat lo ngelamun. Gue anggap sih, lo lagi ngelamunin si Adit. Ya nggak?”
“Kamu sok tahu, deh. Kalau niatmu nelpon aku malem-malem gini cuma buat nanya soal Adit, mending sekarang aku tutup teleponnya deh.” Ketus Tari.
“Nggak gitu juga, Tar. Lo inget nggak, waktu itu lo pernah keceplosan ngomong, kalo lo lagi suka sama seseorang, dan orang itu dari masa kecil lo? Nah, gue anggap juga, orang itu adalah Adit.”
Tari terdiam sejenak. Ia mengingat-ingat kapan ia pernah mengatakan hal itu pada Rian. Dan ia pun mulai mengingat hari itu, saat ia salah bicara ke Rian. Tari hanya mengulas senyum lemah, “Masa’ sih, Rian? Aku lupa.”
Kamu lupa, Rian? Kamu juga temen masa kecilku dulu. Orang itu bukan Adit.
“Oh, ya udah lah kalo lo nggak mau ngaku juga. Eh eh Tar, besok pagi kita berangkat bareng ya? Nanti gue jemput. Oke?”
“Terserah kamu aja.”
“Oke deh. Sampai ketemu besok pagi. Mimpi indah, Tari.”
Sambungan telepon terputus. Tari terdiam menatap layar ponselnya yang redup. Ia tersenyum kecut mengingat pembicaraannya di telepon tadi. Kamu pikir aku suka sama Adit? Kamu salah besar. Kamu nggak peka, Rian.
Malam itu, hujan deras turut mengiring kesedihan Tari. Aliran sungai kecil terbentuk di kedua pipi gadis yang baru saja patah hati itu. Tari memeluk erat boneka beruang besar berwarna coklat, mencoba meluapkan emosinya ke boneka tersebut. Boneka itu, hadiah ulang tahun yang diberikan Rian saat hari ulang tahunnya 23 Oktober lalu.
***
Jakarta, Januari 2009..
Tari menatap langit kelabu lewat jendelanya. Diperhatikannya tetesan gerimis yang jatuh mengenai tanah di luar. Ia menyunggingkan senyum tipis. Hujan akan datang.
Sore hari, awan kelabu dan hujan. Hanya tiga hal itu yang mampu dikenang Tari dari sosok Rian, sahabat yang pernah diidamkannya  untuk menjadi pacarnya. Hanya lewat tiga hal itu Tari mengingat Rian sebagai cinta pertamanya –yang gagal.
Kini sudah lewat sebulan sejak kepindahannya ke Jakarta, bertepatan dengan dua bulan Rian dan Mita menjadi  sepasang kekasih. Ini bukan bentuk pelarian. Bukan pula pelampiasan ketidak-relaan. Ia sudah merelakan Rian untuk Mita, sejak terakhir kali Rian menutup teleponnya pada malam itu. Malam sebelum Tari melihat Rian tersenyum sumringah padanya dan mengatakan jika Mita menerima perasaannya. Kejadian itu masih terpatri jelas dalam ingatannya, sore hari, awan kelabu, hujan, dan……. patah hati.
Suara dering ponsel membuyarkan lamunannya. Rian. Entah sudah berapa ratus kali ia mengirim pesan singkat ke Tari. Entah sudah berapa puluh kali pula ia menelepon Tari. Tapi hal itu hanya menjadi suara weker bagi Tari. Weker yang akan membangunkannya untuk mengingat segala hal yang menyakitkan hatinya.
Pandangannya menerawang. Jika ditanya apakah ia rela atau tidak perihal hubungan Rian dan Mita, ia akan menjawab tegas bahwa ia rela,  sungguh sangat rela. Jika ditanya apakah ia bahagia melihat  kedua sahabatnya menjadi sepasang kekasih, ia akan menjawab tanpa pikir lagi bahwa ia sangat bahagia. Hanya saja, ia masih butuh waktu, untuk memperbaiki dan menetralkan perasaannya. Dan hal itu ia jadikan alasan kenapa ia tak memberitahukan  terkait kepindahannnya ke Jakarta pada Rian dan Mita.
Dering telepon berhenti.
Ia menatap nanar ponsel yang tergeletak di meja belajarnya. Suara musik mengalun merdu dari kamar sebelah, kamar kakaknya. Kavana dengan lagunya yang berjudul thank you berhasil membawa Tari dalam kesadaran, Rian selalu akan menjadi sahabatnya, tidak lebih.
And friends come and go,
(dan semua teman datang dan pergi),
But people like you are hard to find,
(tapi menemukan orang sepertimu sangat sulit),
And times just goes to show,
(dan waktu harus terus berjalan),
I wouldn’t change a thing,
(aku tak ingin mengubah sesuatu),
I owe it all to you I always know,
(aku banyak berhutang padamu, aku selalu tahu itu),
How lucky I am to have you here beside me,
(betapa beruntungnya aku memilikimu disini, disampingku),
So before I go,
(jadi sebelum aku pergi),
I wanna say
(aku ingin bilang)
Thank you, Thank you, Thank you..
(Terima kasih, Terima kasih, Terima kasih..)

~^^


[1] Teh/Teteh (bhs sunda) : panggilan untuk kakak perempuan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar