Bandung, Oktober 2008…
Sore itu gerimis deras
membahasi kota Bandung. Orang-orang hilir mudik mencari tempat perlindungan
yang aman sebelum hujan lebat tiba di bumi. Tak terkecuali dua remaja berseragam
SMA yang sedang berlarian cepat mencoba sampai di halte yang ada tak jauh dari
mereka berlari.
“Akhirnya sampai juga.” Ucap
Rian dengan napas tersenggal-senggal. Diliriknya gadis di sebelahnya yang masih
mengatur napas. “Lo baik-baik aja, kan?” tanya Rian.
Tari
menatap lelaki di sebelahnya dengan garang. Ia menggembungkan pipinya kesal
kepada temannya dan berkata, “Kamu pikir tenaga cewek itu sama kayak cowok?
Cuma gerimis aja kamu larinya kayak orang kesetanan. Apalagi aku larinya sama
Rian Prasetya si juara lari tingkat provinsi. Dasar.” Omelnya dengan napas yang
masih setengah-setengah.
Rian hanya
tertawa kecil menanggapi omelan yang diterimanya. “Maaf.” Sesalnya, yang hanya
dibalas dengusan kasar oleh Tari. “Tapi kalo kita nggak cepet-cepet, nanti
hujannya tambah jadi lho.” Tambah Rian sambil melihat langit yang mendung.
“Mana ada
yang tahu, Rian. Hujan itu bukan kamu yang ngatur. Bisa aja gerimisnya
berhenti.” Sungut Tari kesal.
Tepat saat
Tari menyelesaikan omongannya, hujan deras pun datang. Angin pun ikut
memeriahkan cuaca yang sedang buruk itu. “Liat kan, gue bilang juga apa.” Ejek
Rian sambil tersenyum penuh kemenangan.
Tari
mendecakkan lidahnya kesal menatap guyuran hujan disekelilingnya. Diliriknya
jam tangan yang ia ambil dari saku roknya. “Jam 4.” Gumamnya pelan.
Rian
melirik kearah Tari. “Masih hujan, Tar. Lo mau nekat basah-basahan? Gue sih ogah.
Udah, tunggu reda aja.” Kata Rian seakan tahu kecemasan Tari.
“Tapi ini gelap, Rian. Kapan aku sampai rumahnya? Ini baru jam 4, tapi
gelapnya kayak jam 6.” Keluh Tari.
“Sabar
ajalah, Tar.” Saran Rian.
“Kalau
berhentinya lama gimana?”
“Ya sabar
lagi aja.” Ucap Rian acuh.
Sontak
saja Tari menendang tungkai kaki Rian dengan keras. Rian yang langsung
meng-aduh kesakitan pun tak dihiraukannya. Dengan acuhnya, Tari malah
mengutak-atik ponselnya mencoba memberi pesan singkat ke salah satu anggota
keluarganya untuk menjemput di halte.
“Emang
buru-buru mau ngapain sih?” tanya Rian penasaran.
“Nggak.
Cuma nanti temennya Mama mau dateng.” Jawab Tari.
“Temen
Mama Lo yang dateng, terus kenapa jadi Lo yang ribut?”
“Oh itu.
Anaknya temen Mama juga temen lamaku. Temen masa kecil dulu.” Jelas Tari sambil
tersenyum kecil.
“Cowok?”
tanya Rian.
Tari
mengangguk menjawabnya. Matanya tetap tak beralih dari hujan yang masih ia perhatikan.
Ia pun tak sadar perubahan raut muka Rian. Rian menatapnya dengan pandangan
penuh tanya seakan ada banyak pertanyaan yang ingin ia ajukan pada gadis di
sebelahnya.
Satu bunyi klakson memecah keheningan yang ada di
antara mereka. Sebuah mobil berwarna silver berhenti tepat di depan keduanya
berdiri. Tak lama pintu kemudi mobil itu terbuka, menampakkan sesosok wanita
muda dengan memegang payung berwarna merah.
“Teh[1]
Dita!” seru Rian dan Tari kompak.
Dita
tersenyum lebar menatap Rian dan Tari lalu berjalan menghampiri mereka. “Kalian
belum pulang? Mau bareng?” tawar Dita yang dibalas anggukan oleh Rian.
Sedangkan Tari hanya terdiam memikirkan jawabannya.
“Tari
nggak mau bereng teteh?” Tanya Dita lagi.
“Tapi Tari
udah minta jemput orang rumah, Teh. Sebentar lagi mereka datang.” Tolak Tari
halus.
“Kalo gitu
gue temenin Lo dulu aja sampe mereka dateng deh. Teh Dita, kalo mau duluan, duluan
aja. Aku nunggu Tari sampai dia dijemput.” Ucap Rian.
“Eh nggak
usah. Kamu pulang aja sana. Mumpung ada Teh Dita. Kan rumah kalian dekat.”
Bujuk Tari.
“Kamu
yakin mereka sebentar lagi dateng?” tanya Dita memastikan.
Tari
mengangguk pasti lalu berkata, “iya.
Tadi aku udah sms mereka.”
“Oh. Ya
udah. Ayo Teh, kita pulang sekarang aja.” Ajak Rian. Diliriknya sekilas Mika
yang masih berusaha meyakinkan Dita untuk segera pulang.
“Kalau
gitu, kami duluan ya.” Pamit Dita.
Mobil
silver itu pun berlalu pergi meninggalkan halte. Meninggalkan Tari yang
menunggu sendirian. Tak lama sebuah mobil hitam berhenti di depan Tari. Begitu
menyadarinya, Tari pun langsung memasuki mobil yang akan membawanya ke rumah.
***
Tari
menatap laki-laki di depannya dengan tatapan tak percaya. Ia pun tak sadar jika
ia belum berkedip sama sekali sejak melihat lelaki itu berdiri di hadapannya.
“Kamu
Adit?” Tanya Dita memastikan.
Lelaki
yang di panggil Tari ‘Adit’ itu hanya mengangguk menjawab pertanyaan bodoh yang
dilontarkan Tari. “Kau lupa? Tentu saja aku Adit.”
“Tak
kusangka kamu banyak berubah. Dulu itu kamu hitam, pendek, gendut. Tapi
sekarang kamu jadi……”
“Putih,
tinggi dan tampan?” tanya Adit sambil menyilangkan kedua tangannya di depan
dada.
Tanpa
sadar Tari pun mengangguk sambil tetap menatap Adit dengan penuh takjub. Ia
baru sadar saat Adit tertawa kecil melihatnya memandangi dirinya seolah-olah
akan memakannya.
“Kamu juga
berubah.” Ucap Adit.
“Masa, sih?
Tapi kayaknya dulu aku nggak gendut deh. Kulitku juga nggak hitam. Walaupun aku
pendek sih.” Bela Tari sambil mengingat-ingat dirinya saat masih kecil. “Terus
aku berubah ap-“
“Kamu
lebih cantik.” Ucap Adit memotong ocehan Tari. Diberikannya senyum manis kala
ia mengucapkan pujian itu.
Deg!
Jantung Tari seakan berhenti mendengar pujian Adit yang ditujukan kepadanya.
Tanpa ia sadari pipinya bersemu merah. Ditundukkannya kepalanya mencoba
menutupi semburat merah di wajahnya agar tak ketahuan Adit. Tapi sayangnya,
Adit yang terus memperhaikan wajah Tari sedari tadi mengetahuinya.
“Pipimu
merah.” Goda Adit sembari menunjuk pipi kanan Tari.
***
Rian menatap
layar ponselnya dengan malas. Moodnya mendadak buruk setelah membaca isi sms
yang diterimanya dari Mita : Rian, minggu
besok aku harus latihan untuk lomba.
Maaf. Aku akan menghubungimu secepatnya.
“Batal
lagi?” dengusnya kesal.
Dipandangnya
langit-langit kamar menerawang. Pikirannya terbang kemana-mana. Saat ini ia
sangat butuh ketenangan. Mengingat hari ini cukup melelahkan karena tadi ia
harus menyiapkan segala sesuatu untuk pensi ulang tahun sekolah bulan depan,
ditambah masalahnya dengan Mita. Mita bukan pacar Rian, mereka hanya berteman,
yah teman dekat. Tapi nyatanya, Rian menyadari jika ia mempunyai perasaan
‘khusus’ untuk Mita. Bisakah disebut suka? Mungkin saja.
Bunyi
dering ponsel mengusik lamunannya. Dirabanya sekitar tempat tidurnya mencoba
menemukan ponsel yang tadi dilemparnya asal. Ketemu! Ucapnya dalam hati. Tanpa
melihat siapa peneleponnya Rian mengangkat ponselnya ke samping telinga.
“Halo?....
oh, lo Tari. Kenapa? ....Cuma itu?....
kenapa harus gue sih?.... gue usahain besok deh…. iya tapi gue nggak janji….
ya… iya…. hm.” Sambungan telepon terputus. Setelahnya Rian mengerang kesal.
“Cewek itu nyusahin ya?” keluhnya pada diri sendiri.
Baru saja
Tari menelepon agar Rian mau menemaninya membeli kado untuk temannya. Dan pasti
Rian akan diajak ke mall ataupun toko-toko dengan latar belakang hal-hal yang
penuh dengan tema pink, boneka, bunga yah semua yang baginya terlalu berlebihan
untuk digunakan sebagai pajangan kamar.
Rian
berusaha memejamkan matanya untuk tertidur. Satu menit. Dua menit. Tiga menit.
Empat menit, dan mata itu pun kembali
terbuka. Ia mendengus pasrah dan menggumamkan sesuatu yang hanya dapat didengarnya sendiri.
***
Tari
menarik, ah bukan! lebih tepatnya menyeret Rian untuk tetap mengikutinya menuju
stan-stan yang ada di mall. Matanya tak lepas melihat-lihat barang apa saja
yang sekiranya pantas untuk dijadikan kado ulang tahun temannya. Sesaat
pandangannya tertuju pada etalase toko yang memajang sebuah topi fedora
berwarna abu-abu. Senyum manis tercetak jelas dari wajah cantiknya. Serta
merta, ia kembali menyeret Rian untuk memasuki toko tersebut. Sedangkan Rian
selaku korban penarikan Tari, hanya pasrah mengikuti arus yang diciptakan gadis
itu.
“Buat
siapa sih, Tar? Emang temen Lo suka pake topi kaya gitu ya?” tanya Rian saat
Tari membawa topi itu ke kasir.
“Buat
Adit.” Jawab Tari singkat tanpa menoleh ke Rian.
Rian
mengerutkan keningnya. “Adit siapa?”
Tanpa
menjawab pertanyaan yang dilontarkan Rian, Tari langsung mengajak Rian keluar
dari toko tersebut karena barang yang tadi dipilihnya sudah selesai dibayar.
“Tar, Adit
itu siapa?” tanya Rian saat mereka sudah berjalan jauh meninggalkan toko.
Tari
melirik sekilas Rian yang masih menatapnya penasaran. “Adit itu anak temennya
Mama yang waktu itu aku ceritain.”
“Oooh.
Terus kap-“
“Rian ayo
makan. Laper nih.” Seru Tari memotong ucapan Rian.
Tanpa
persetujuan Rian, Tari pun segera menggamit tangan Rian dan menuntunnya menuju
food court yang ada di depan mereka.
Rian
mendecak kesal melihat tingkah Tari yang tak kenal penolakkan. Seenaknya,
lagi-lagi motong pembicaraan orang.
***
Bandung, November 2008..
Rian
menyeruput jus mangga yang disediakan di rapat Osis. Sore itu, beberapa anggota
Osis disibukkan dengan rapat dan persiapan untuk pensi besok. Rian menata
beberapa berkas yang baru saja ditelitinya. Matanya memeriksa segala persiapan
yang sedang dikerjakan beberapa temannya.
“Hari ini
kita lembur. Minimal kita udah selesai 75% sebelum pagi besok dilanjutin. Oke?”
Seru Rian mengingatkan.
“IYA!!!!”
Rian
mengelap keringat di sekitar pelipisnya dengan saputangan. Ia mengedarkan
pandangannya ke seluruh ruangan Osis itu. Semua temannya sibuk mengerjakan
tugas mereka masing-masing. Pandangannya tertuju pada Mita yang sedang sibuk
menggunting kertas warna-warni menjadi potongan kecil. Ia pun segera
menghampirinya.
“Hei.”
Sapa Rian sambil tersenyum kecil.
Mita
menolehkan pandangannya kearah Rian. Ia membalas senyuman Rian. “Halo, Pak
Ketua.”
Rian
terkekeh kecil mendengar sebutan yang diucapkan Mita untuknya. “Gue belum jadi
bapak-bapak, Mit.”
Mita
tertawa kecil mendengar sahutan Rian. Ia menggeser duduknya, menyuruh Rian
untuk duduk disebelahnya.
“Gue
nganggur. Mau gue bantu?” tawar Rian yang kemudian dibalas dengan anggukan oleh
Mita.
Rian
menyenderkan badannya ke sandaran kursi di belakangnya. Diambilnya beberapa
kertas origami dan sebuah gunting kemudian mengguntingnya. Sesekali diliriknya
Mita yang masih tetap fokus pada pekerjaannya. Tanpa ia sadari, seulas senyum
tipis hadir dibibirnya.
“Oh iya.
Rian, aku minta maaf soal kemaren.” Ucap Mita.
Rian
menghentikan kegiatannya. Diliriknya Mita dengan penuh tanda tanya. “Soal apa?”
“Janjian
kita yang batal.”
Rian
terdiam sejenak. Tak lama kepalanya mengangguk pelan. Ia lantas tersenyum kecil
pada Mita. “Oh itu. Kirain apa. Udah nggak usah dipikirin. Gue juga udah lupa
kok.” Ucap Rian enteng.
Mita
tersenyum kecil. Ia melanjutkan pekerjaannya menggunting kertas yang tadi
sempat tertunda. “Emangnya kamu nggak ngajak Tari buat pergi?” tanya Mita tanpa
mengalihkan pandangannya.
“Bukan gue
yang ngajak Tari buat pergi, Mit. Tapi dia. Malahan dia yang maksa.”
“Kalian
pergi kemana?”
“Nyari
kado buat temennya Tari.”
“Ooh.”
Sebuah
tepukan kecil dibahu Rian dan Mita mengintrupsi kegiatan mereka.keduanya
menoleh ke arah si pemilik tangan. Dilihatnya seorang gadis yang sedang tersenyum lebar menatap mereka.
Tari.
“Ganggu
nggak?” tanya Tari sambil mengerling nakal ke arah Rian.
Rian
menatap sinis Tari yang sedang tersenyum mengejek padanya. “Ngapain lo?
Bukannya lo mau nge-date sama siapa itu,,,,, oh, Adit.”
“Ih Rian.
Kok, nadanya sinis gitu, sih? Memangnya kapan aku bilang mau nge-date sama dia?”
Rian hanya
mengedikkan bahunya. Ia melanjutkan kembali kegiatannya menggunting kertas yang
tadi sempat terhenti.
“Adit
siapa Tar? Pacar?” tanya Mita yang sedari tadi memperhatikan kedua temannya.
“Bukanlah,
Mit. Dia temen masa kecil aku pas TK dulu. Tau nggak? Dia cakep lho. Mau aku
kenalin?” tawar Tari sambil menaik-turunkan kedua alisnya.
Mita
terkikik pelan mendengar celotehan Tari. “Yang bener, Tar? Boleh tuh.”
Sementara
itu, Rian hanya menggelengkan kepalanya pasrah menyaksikan dua perempuan
didepannya yang terlarut dalam pembicaraan satu topik, ADIT. Ia mendengus
kasar.
Dasar Tari nyebelin.
***
Tari
menatap layar ponselnya sendu. Ia kembali membaca sms yang diterimanya dari
Rian. Dibuangnya napas kasar. Hanya beberapa kata yang diterimanya, tapi hal
itu sudah bisa membuatnya kehilangan butiran kesenangan beribu-ribu jumlahnya :
Setelah
pensi selesai, gue mau nembak Mita. Menurut lo gimana?.
Tari hanya
tersenyum miris melihatnya. Ada sebutir air mata yang sekarang sedang
bersemayam di sudut matanya. Diketiknya beberapa kata untuk membalas sms : Oh.
Good luck yaa.
Satu tetes
air mata turun membasahi pipinya seiring dengan terkirimnya pesan singkat itu.
Tak lama, ponselnya kembali berbunyi, bukan nada sms, tapi telepon, dari Rian.
Dengan
satu tegukan lidah dan deheman kecil, Tari mencoba berbicara senormal mungkin
agar suara paraunya tak terdengar Rian.
“Apa,
Rian?” sapa Tari saat mengangkat telepon.
“Widih, Tari. Masa’ nggak ada basa-basinya, sih.
Bilang ‘halo’ atau apa gitu, kek.” Sahut Rian di seberang telpon.
Tari hanya
tersenyum masam mendengar sahutan Rian. “Kamu mau bilang apa? Cepet bilang
sekarang! Aku ngantuk nih.”
Aku
nggak ngantuk, Ri. Aku cuma lagi nggak mau ngedenger suara kamu.
“Hahaha. Iya deh, maaf. Lo jawab sms gue datar
sangat sih, Tar. Lo nggak mau ngasih tips-tips ampuh buat gue gitu?”
“Nggak.
Harusnya itu naluri ilmiah, Ri.” Seru Tari.
Iya,
aku nggak mungkin ngasih saran buat kamu yang mau nembak orang lain, kan, Ri?
“Idih, Tari. Perasaan gue, dari tadi lo sinis-sinis
gitu sama gue ya? Kenapa lo?”
“Aku nggak
apa-apa.” Tari mendengus kasar.
Aku
cuma nggak terima kalo kamu suka sama Mita atau siapapun itu.
“Ooh, ya udah kalo lo nggak mau cerita. Oh iya! Lo
sama Adit gimana? Gue penasaran. Lo suka sama Adit nggak, sih? Kok lo nggak pernah cerita sama gue?.”
“Itu bukan
urusanmu, Rian. Aku kan udah bilang, Adit itu temenku. Dan aku nggak punya perasaan
apa-apa sama dia.”
“Yang bener, Tar?”
“Bener,
Ri.” Tari mendengus kesal.
Aku
nggak bohong, Rian.
“Gue rasa sih, lo suka sama si Adit, Tar. Dari
bulan lalu sejak lo cerita soal si Adit ke gue, gue sering ngeliat lo ngelamun.
Gue anggap sih, lo lagi ngelamunin si Adit. Ya nggak?”
“Kamu sok
tahu, deh. Kalau niatmu nelpon aku malem-malem gini cuma buat nanya soal Adit,
mending sekarang aku tutup teleponnya deh.” Ketus Tari.
“Nggak gitu juga, Tar. Lo inget nggak, waktu itu lo
pernah keceplosan ngomong, kalo lo lagi suka sama seseorang, dan orang itu dari
masa kecil lo? Nah, gue anggap juga, orang itu adalah Adit.”
Tari
terdiam sejenak. Ia mengingat-ingat kapan ia pernah mengatakan hal itu pada
Rian. Dan ia pun mulai mengingat hari itu, saat ia salah bicara ke Rian. Tari
hanya mengulas senyum lemah, “Masa’ sih, Rian? Aku lupa.”
Kamu
lupa, Rian? Kamu juga temen masa kecilku dulu. Orang itu bukan Adit.
“Oh, ya udah lah kalo lo nggak mau ngaku juga. Eh
eh Tar, besok pagi kita berangkat bareng ya? Nanti gue jemput. Oke?”
“Terserah
kamu aja.”
“Oke deh. Sampai ketemu besok pagi. Mimpi indah,
Tari.”
Sambungan
telepon terputus. Tari terdiam menatap layar ponselnya yang redup. Ia tersenyum
kecut mengingat pembicaraannya di telepon tadi. Kamu
pikir aku suka sama Adit? Kamu salah besar. Kamu nggak peka, Rian.
Malam itu,
hujan deras turut mengiring kesedihan Tari. Aliran sungai kecil terbentuk di
kedua pipi gadis yang baru saja patah hati itu. Tari memeluk erat boneka
beruang besar berwarna coklat, mencoba meluapkan emosinya ke boneka tersebut.
Boneka itu, hadiah ulang tahun yang diberikan Rian saat hari ulang tahunnya 23
Oktober lalu.
***
Jakarta, Januari 2009..
Tari
menatap langit kelabu lewat jendelanya. Diperhatikannya tetesan gerimis yang
jatuh mengenai tanah di luar. Ia menyunggingkan senyum tipis. Hujan
akan datang.
Sore hari,
awan kelabu dan hujan. Hanya tiga hal itu yang mampu dikenang Tari dari sosok Rian,
sahabat yang pernah diidamkannya untuk
menjadi pacarnya. Hanya lewat tiga hal itu Tari mengingat Rian sebagai cinta
pertamanya –yang gagal.
Kini sudah
lewat sebulan sejak kepindahannya ke Jakarta, bertepatan dengan dua bulan Rian
dan Mita menjadi sepasang kekasih. Ini
bukan bentuk pelarian. Bukan pula pelampiasan ketidak-relaan. Ia sudah
merelakan Rian untuk Mita, sejak terakhir kali Rian menutup teleponnya pada
malam itu. Malam sebelum Tari melihat Rian tersenyum sumringah padanya dan
mengatakan jika Mita menerima perasaannya. Kejadian itu masih terpatri jelas
dalam ingatannya, sore hari, awan kelabu, hujan, dan……. patah hati.
Suara
dering ponsel membuyarkan lamunannya. Rian. Entah sudah berapa ratus kali ia
mengirim pesan singkat ke Tari. Entah sudah berapa puluh kali pula ia menelepon
Tari. Tapi hal itu hanya menjadi suara weker bagi Tari. Weker yang akan
membangunkannya untuk mengingat segala hal yang menyakitkan hatinya.
Pandangannya
menerawang. Jika ditanya apakah ia rela atau tidak perihal hubungan Rian dan
Mita, ia akan menjawab tegas bahwa ia rela,
sungguh sangat rela. Jika ditanya apakah ia bahagia melihat kedua sahabatnya menjadi sepasang kekasih, ia
akan menjawab tanpa pikir lagi bahwa ia sangat bahagia. Hanya saja, ia masih
butuh waktu, untuk memperbaiki dan menetralkan perasaannya. Dan hal itu ia
jadikan alasan kenapa ia tak memberitahukan
terkait kepindahannnya ke Jakarta pada Rian dan Mita.
Dering
telepon berhenti.
Ia menatap
nanar ponsel yang tergeletak di meja belajarnya. Suara musik mengalun merdu
dari kamar sebelah, kamar kakaknya. Kavana dengan lagunya yang berjudul thank
you berhasil membawa Tari dalam kesadaran, Rian selalu akan menjadi
sahabatnya, tidak lebih.
And friends come and
go,
(dan
semua teman datang dan pergi),
But people like you
are hard to find,
(tapi
menemukan orang sepertimu sangat sulit),
And times just goes
to show,
(dan
waktu harus terus berjalan),
I wouldn’t change a
thing,
(aku tak ingin mengubah sesuatu),
I owe it all to you
I always know,
(aku
banyak berhutang padamu, aku selalu tahu itu),
How lucky I am to
have you here beside me,
(betapa
beruntungnya aku memilikimu disini, disampingku),
So before I go,
(jadi
sebelum aku pergi),
I wanna say
(aku
ingin bilang)
Thank you, Thank
you, Thank you..
(Terima
kasih, Terima kasih, Terima kasih..)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar