7 Februari 2013

The Last Tears



“Aku tak sekuat yang kamu pikir, Ana. Aku itu lemah.” Ucap Mia lirih. Ia mendongakkan kepalanya menatap langit sore yang menyala jingga. Disibakkannya ke belakang  helaian anak rambut yang menjuntai di samping telinganya. Sorot matanya teduh penuh kesedihan.
Ana menoleh menatap sahabatnya. Alisnya berkerut saat didengarnya lirihan Mia menyebut dirinya lemah. “Kau yakin? Kurasa kamu hanya tak sadar kekuatanmu. Kamu itu gadis paling tegar yang pernah aku temui seumur hidup. Sungguh.” Yakin Ana.
“Tidak, Ana. Kau saja yang tak tahu kelemahanku.” Sanggah Mia.
Hembusan napas kecil terdengar dari mulut Ana. Ditundukkannya kepala di atas lututnya yang ia tekukkan. Ia memainkan lidi yang sejak tadi dipegangnya ke atas pasir pantai, mencoba menulis atau melukis sesuatu  dengan media seadanya. “Kalau begitu apa kelemahan yang kamu maksud tadi? Mungkin kau benar jika aku tak tahu apa-apa.” Tanyanya tanpa menoleh ke arah Mia.
“Kamu itu gadis yang pintar dan penuh perasaan. Tanpa aku beritahu pun, aku  sangat yakin kau tahu jawabannya. Kau hanya menutup matamu untuk tidak melihat kelemahan orang lain. Benar kan?” Tanya Mia.
Ana menghentikan aktivitasnya. Ditatapnya Mia yang sedari tadi terus asyik menatap langit sore. Pikirannya mengintropeksi dirinya sendiri. Ia sadar jika hal yang diucapkan Mia tentang dirinya adalah benar.
“Aku hanya tak mau membuat orang lain khawatir karena keadaanku. Siapapun.” Tegas Mia.
“Masalah ibumu, kah?” tanya Ana memastikan.
Mia mengedikkan bahunya pelan lalu berkata, “Semuanya.”
Ana menganggukkan kepalanya pelan. Ia tahu betul apa yang dirasakan sahabatnya selama ini. Dan ia juga sadar kalau ia terlalu mengelak bahwa sahabatnya itu dalam keadaan baik-baik saja. Ia tahu betapa rapuh sahabatnya dibalik ketegaran yang ia tunjukkan di depan orang lain. Dan kini ia sadar jika sikap pura-pura tidak tahunya telah terbongkar.
Mia menghembuskan nafas pelan. Ditariknya seulas senyum indah di kedua sudut bibirnya. “Sampai sekarang aku masih belum percaya Mama sudah meninggal. Padahal sudah 3 tahun lebih sejak Mama pergi.”
Mia terdiam sejenak sebelum melanjutkan kata-katanya. “Orang lain bisa tahu aku baik-baik saja karena aku memang tak berniat untuk menunjukkan kesengsaraanku di depan mereka. Yah, kecuali kamu.”
Mendengar penuturan Mia, Ana pun langsung membuka suaranya,  “Maaf Mia. Aku benar-benar tidak bermaksud –“
“Tidak usah minta maaf. Aku tahu kau bermaksud baik dengan tidak mengatakannya agar aku tak merasa merepotkan orang lain. Ya kan? Aku……kurasa aku harus sedikit berterima kasih padamu.” Potong Mia menghentikan sanggahan Ana.
Semilir angin menghiasi kesunyian yang ada di antara mereka. Bunyi gemerisik daun saling bersahutan tatkala sapaan lembut angin menghampiri satu persatu helaian daun yang ada dipohon. Matahari mulai kembali menuju tempat istirahat sementaranya, membelah diri di ujung laut yang mampu dilihat manusia.
“Mau dengar ceritaku?” Tanya Mia.
Ana menganggukkan kepala pertanda mengijinkan sahabatnya bercerita, “tentu saja.”
Mia terdiam beberapa saat sebelum memulai ceritanya. Pandangan matanya tertuju pada ombak yang saling mengejar di sekitar pinggir pantai. Mungkin ia sedang memilih kalimat pembuka untuk ceritanya, setidaknya itulah yang dipikirkan Ana saat menunggu Mia memulai curhatannya.
“Kamu ingat saat 4 tahun lalu, hari dimana aku memberitahumu bahwa Mama terkena kanker rahim stadium 2? Saat itu, entah dapat pikiran darimana, aku merasa akan kehilangan Mama dalam waktu singkat. Kau pasti ingat saat itu kita menangis bersama karena ceritaku, hingga membuat anak-anak di kelas mengerubungi kita. Itulah hari dimana aku menampakkan air mataku di depan orang lain, yaaah dan menjadi tontonan. Sebelumnya aku tak pernah menangis di depan orang banyak.
Aku begitu takut mendengar vonis itu, Ana. Apalagi aku harus mendengar permintaan dokter agar mengijinkan Mama untuk rawat inap di rumah sakit. Dan dengan berat hati dan berbagai pertimbangan demi kebaikan Mama, akhirnya ayah memutuskan untuk menerima saran dokter. Padahal saat itu aku sangat tahu kondisi  keuangan keluargaku. Aku tahu hari itu ayah menelepon temannya untuk meminta pinjaman uang.   
Hari itu juga untuk pertama kalinya aku melihat Mama tertidur di ranjang rumah sakit. Hari itu adalah awal dimana aku harus menjadi ibu rumah tangga dan pelajar sekaligus. Mulai hari itu aku mulai mengambil alih segala pekerjaan rumah tangga yang biasa dikerjakan Mama. Saat itu aku baru menyadari satu hal, ternyata Mama itu hebat. Sungguh, pekerjaan ibu rumah tangga itu melelahkan. Banyak sekali yang harus kukerjakan. Segalanya, tanpa terkecuali, aku benar-benar mengerjakannya tanpa memilih-milih seperti saat Mama masih sehat. Berulang kali aku mengeluh karena banyaknya pekerjaan yang harus aku tangani padahal tugas sekolahku pun belum kuselesaikan. Berulang kali aku merengek meminta bantuan kepada siapa saja yang ada di rumah agar mau membantuku untuk mengerjakan sebagian pekerjaan rumah.  Tapi kau tahu apa tanggapan Mama saat itu? Mama berulang kali mendorongku untuk terus tidak merengek dan mengeluh. Padahal aku tahu Mama sangat merasa kasihan padaku. Mama mengatakan jika apa yang aku lakukan sekarang akan sangat berguna untukku kelak. Ternyata perkataan Mama terbukti.
2 bulan setelahnya kondisi Mama naik-turun. Kadang Mama terlihat sangat sehat, kadang juga Mama terlihat seperti orang sekarat. Aku, ayah dan keluarga yang lain berjuang keras mencari pengobatan untuk kesembuhan Mama.
Tepat menginjak satu tahun Mama divonis soal penyakitnya, akhirnya Mama gugur. Saat itu kami sekeluarga ada di Bogor, tempat kelahiran Mama. Masih teringat jelas saat itu keadaan Mama yang sangat memprihatinkan. Mama menjadi sangat kurus, rambutnya tipis dan wajahnya sangat pucat. Daripada dibilang manusia hidup, mungkin Mama lebih terlihat seperti mayat. Tapi disaat masa kritisnya tadi, Mama masih bisa memberiku ceramah panjang, walaupun dengan ucapan terputus-putus dan suara yang sangat pelan. Bahkan Mama masih bisa mengelus-elus punggungku hingga aku tertidur. Dan saat itu, aku sangat menyesal karena tepat saat aku terbangun, Mama menghembuskan napas terakhirnya. Aku terbangun dengan suara tangisan anggota keluargaku yang kudengar. Didepanku sudah ada Mama yang tersenyum dalam tidurnya. Aku yang saat itu memeluk tangan Mama menyadari satu hal. Nadinya tak menunjukkan pergerakan normal. Bahkan aku tak merasakan sama sekali denyutan itu. Mama pergi tepat saat aku membuka mata.”
Mia menghembuskan napasnya pelan. Aliran sungai kecil di pipinya mengalir begitu deras. Tubuhnya bergetar menahan isakan tangis. Kini kepala itu tidak lagi menengadah menatap langit yang semakin gelap, tapi ditundukkannya sedalam-dalam ia mampu menunduk.
Ana langsung merengkuh sahabatnya dalam sebuah pelukan sarat kepedulian. Mereka menangis bersama  hingga airmata saling membasahi bahu keduanya. Ana tahu betapa sesaknya Mia menahan segala beban hidupnya. Mia sering bercerita tentang bagaimana susahnya ia membagi waktunya untuk urusan rumah, sekolah maupun hal lain. Ataupun bercerita soal keluarganya yang semakin tidak karuan dari hari ke hari. Kadang Ana merasa betapa memprihatinkan hidup sahabatnya itu.
Mia bukan berasal dari kalangan atas, juga bukan kalangan bawah. Ia hanya dari keluarga sederhana. Ayahnya seorang guru SD dan ibunya hanya ibu rumah tangga biasa. Ia mempunyai satu kakak laki-laki dan seorang adik perempuan. Tepat saat ibunya divonis terkena kanker rahim, ayahnya baru saja membayar uang kuliah untuk kakaknya. Belum lagi saat itu tahun ajaran baru untuk Mia dan pastinya membutuhkan uang yang tidak sedikit, jadilah saat itu kondisi keuangan keluarganya tidak dalam kondisi baik.
Segala yang terjadi dikehidupan ini memang kejutan. Entah itu baik, buruk, menyenangkan atau menyedihkan manusia pasti akan merasakannya. Itulah yang selalu Ana lihat dari hidup Mia. Mia itu cantik, hatinya begitu lembut, baik hati dan Mia itu pintar. Ana sama sekali tidak melihat cacat dalam diri Mia kecuali penyakitnya, asma. Tapi menurut Mia penyakit itu bukan suatu hal yang dianggap penganggu mengingat asma itu tidak pernah kambuh, itu yang sering didengar Ana.
Ana bukanlah orang yang mudah untuk mengungkapkan apa yang ia rasakan kepada orang lain. Siapapun orang itu, walaupun sudah kenal dekat dengannya. Ia tak menampik jika apa yang dikatakan Mia tentang dirinya –pura-pura tidak tahu- adalah benar. Ia mengakui hal itu, ia membenarkan jika sikap kepura-puraannya akan sangat menyusahkannya dan orang lain. Tapi percayalah, walaupun Ana seperti itu ia tetap mempedulikan orang-orang sekitarnya, terlebih itu keluarganya dan Mika.
***

Life is not a movie. Ya, hidup memang bukan sebuah film. Bukan juga drama maupun sinetron. Hidup adalah sejarah. Dimana sejarah itulah manusia yang membuatnya, merekamnya dalam balutan ingatan yang kapan saja bisa dilupakan. Dan sejarah inilah yang menjadi kejutan dengan tanda tanya besar layaknya kotak pandora maupun harta karun yang selalu membayangi hidup manusia.
Ana mengusap wajahnya yang berkeringat. Lagi-lagi mimpi itu datang. Ana tertunduk diam sambil mengingat-ingat apa yang baru saja dilaluinya dalam tidur. Mimpi dimana hari itu menjadi hari terakhirnya bertemu Mia sebelum keesokan paginya Mia ditemukan tak bernafas diatas tempat tidurnya. Senyum indah menghiasi wajahnya yang pucat, hampir kaku dan dingin. Dibawah tangannya yang terjuntai di samping tempat tidur, ada sebuah inhaler yang  biasa dipakainya saat asma itu menyerang. Dan semua orang memastikan jika Mia gagal bertahan saat asma kronisnya itu menyerang.
Aliran sungai di pipi Ana terbentuk tanpa ia sadari. Ia mengusap pelan matanya yang basah dengan punggung tangannya. Tangannya tergerak meraih nakas di samping tempat tidurnya. Ia mengambil secarik kertas berwarna merah muda yang sudah sedikit lusuh dari dalam lacinya. Kembali air mata itu keluar deras tak terbendung. Berbagai potongan kejadian di hari itu terus berputar diotaknya laksana roll film yang terus berputar memperlihatkan setiap isi adegan yang disimpannya.
“Jika aku dilahirkan kembali, aku ingin merasakan bagaimana rasanya menjadi kupu-kupu.” Ucap Mia.
“Kupu-kupu?”
“Iya, kupu-kupu.” Mia tersenyum mengiyakan pertanyaan Ana. “…yang berwarna putih.”
“Ah, kau kan suka putih.” Ana menatap Mia yang berjalan disampingnya. “Tapi kenapa harus kupu-kupu?” Tanya Ana heran.
“Aku tidak tahu. Aku hanya penasaran bagaimana rasanya hidup sebagai kupu-kupu. Tidak ada alasan khusus.”
“Kau aneh.”
“Memang.” Mia tersenyum kecil pada Ana.
Ana terisak pelan dengan kepalanya yang tertunduk. Ia memeluk erat lututnya yang ikut bergetar karena menahan tangisnya agar tidak semakin pecah. Kertas yang baru saja diambilnya diremas pelan. Ini bukan bentuk kekesalan, tapi luapan kesedihan. Kertas itu ia dapatkan saat ia membereskan laci meja Mia.
Kembali, potongan-potongan kejadian dimasa lalu kembali berputar diotaknya. Tiga hari pasca pemakaman Mia, untuk pertama kalinya Ana mengunjungi tempat peristirahatan terakhir Mia. Ana butuh waktu untuk menerima kenyataaan itu. Ia benar-benar masih tidak percaya sahabatnya pergi secepat ini. Saat itu, ia selesai berdoa untuk ketenangan Mia dikehidupan barunya. Satu kupu-kupu kecil hinggap tepat diatas nisan yang mengukir nama Mia. Kupu-kupu kecil berwarna putih. Saat itu juga Ana berpikir jika Mia sedang menikmati kesenangannya karena satu impiannya terkabul, yaitu menjadi kupu-kupu berwarna putih.
Ana memaksakan sebuah senyum simpul diwajahnya. Benar, aku harus bisa menerimanya, ucapnya dalam hati. Ia meraih kertas yang tadi diremasnya dan kembali merapikannya walaupun hal itu sia-sia, kertas itu tetap kusut.
“Mia, sudah 2 minggu kamu pergi. Kuharap kamu baik-baik saja” Ucapnya pelan.
Ana kembali memejamkan matanya. Tanpa menunggu waktu lama, ia kembali masuk ke alam tidurnya, membawanya masuk ke dalam suatu ketenangan batin yang sangat ia harapkan.

Kesunyian ini..
Terkadang ku rasa pilu
kejamnya hidup yang ada
Indahnya hariku yang lalu
Bersandar pada kasih sayang tanpa lara

Kini ku mencoba untuk bisa terarah
dalam tangis yang tak jera pergi
Apa ku harus terus mengalah
pada keadaan yanng buatku mati

Indah menyusut menjadi sunyi
Bagiku risalah hidup ini yang buatku rentan
Kapankah kumbang menghampiri
Disaat aku tersesat bahkan hilang kestabilan

Bantu aku kumbang yang tak kunjung datang
Hadirmu kunanti untuk bisa meraih angan
Apakah hanya jalan kematian?
Aku ingin hidup riang. .

Kertas itu masih dipegang Ana. Kertas berisi puisi terakhir yang Mia buat tanpa ia tunjukkan pada Ana, tidak seperti biasanya saat Mia membuat puisi yang selalu ditunjukkannya pada Ana. Benar, tak seperti biasanya.
~*~*~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar