“Aku
tak sekuat yang kamu pikir, Ana. Aku itu lemah.” Ucap Mia lirih. Ia
mendongakkan kepalanya menatap langit sore yang menyala jingga. Disibakkannya
ke belakang helaian anak rambut yang
menjuntai di samping telinganya. Sorot matanya teduh penuh kesedihan.
Ana
menoleh menatap sahabatnya. Alisnya berkerut saat didengarnya lirihan Mia
menyebut dirinya lemah. “Kau yakin? Kurasa kamu hanya tak sadar kekuatanmu. Kamu
itu gadis paling tegar yang pernah aku temui seumur hidup. Sungguh.” Yakin Ana.
“Tidak,
Ana. Kau saja yang tak tahu kelemahanku.” Sanggah Mia.
Hembusan
napas kecil terdengar dari mulut Ana. Ditundukkannya kepala di atas lututnya
yang ia tekukkan. Ia memainkan lidi yang sejak tadi dipegangnya ke atas pasir
pantai, mencoba menulis atau melukis sesuatu
dengan media seadanya. “Kalau begitu apa kelemahan yang kamu maksud
tadi? Mungkin kau benar jika aku tak tahu apa-apa.” Tanyanya tanpa menoleh ke
arah Mia.
“Kamu
itu gadis yang pintar dan penuh perasaan. Tanpa aku beritahu pun, aku sangat yakin kau tahu jawabannya. Kau hanya
menutup matamu untuk tidak melihat kelemahan orang lain. Benar kan?” Tanya Mia.
Ana
menghentikan aktivitasnya. Ditatapnya Mia yang sedari tadi terus asyik menatap
langit sore. Pikirannya mengintropeksi dirinya sendiri. Ia sadar jika hal yang
diucapkan Mia tentang dirinya adalah benar.
“Aku
hanya tak mau membuat orang lain khawatir karena keadaanku. Siapapun.” Tegas
Mia.
“Masalah
ibumu, kah?” tanya Ana memastikan.
Mia
mengedikkan bahunya pelan lalu berkata, “Semuanya.”
Ana
menganggukkan kepalanya pelan. Ia tahu betul apa yang dirasakan sahabatnya
selama ini. Dan ia juga sadar kalau ia terlalu mengelak bahwa sahabatnya itu
dalam keadaan baik-baik saja. Ia tahu betapa rapuh sahabatnya dibalik ketegaran
yang ia tunjukkan di depan orang lain. Dan kini ia sadar jika sikap pura-pura
tidak tahunya telah terbongkar.
Mia
menghembuskan nafas pelan. Ditariknya seulas senyum indah di kedua sudut
bibirnya. “Sampai sekarang aku masih belum percaya Mama sudah meninggal.
Padahal sudah 3 tahun lebih sejak Mama pergi.”
Mia
terdiam sejenak sebelum melanjutkan kata-katanya. “Orang lain bisa tahu aku
baik-baik saja karena aku memang tak berniat untuk menunjukkan kesengsaraanku
di depan mereka. Yah, kecuali kamu.”
Mendengar
penuturan Mia, Ana pun langsung membuka suaranya, “Maaf Mia. Aku benar-benar tidak bermaksud –“
“Tidak
usah minta maaf. Aku tahu kau bermaksud baik dengan tidak mengatakannya agar
aku tak merasa merepotkan orang lain. Ya kan? Aku……kurasa aku harus sedikit
berterima kasih padamu.” Potong Mia menghentikan sanggahan Ana.
Semilir
angin menghiasi kesunyian yang ada di antara mereka. Bunyi gemerisik daun
saling bersahutan tatkala sapaan lembut angin menghampiri satu persatu helaian
daun yang ada dipohon. Matahari mulai kembali menuju tempat istirahat
sementaranya, membelah diri di ujung laut yang mampu dilihat manusia.
“Mau dengar
ceritaku?” Tanya Mia.
Ana
menganggukkan kepala pertanda mengijinkan sahabatnya bercerita, “tentu saja.”
Mia terdiam
beberapa saat sebelum memulai ceritanya. Pandangan matanya tertuju pada ombak
yang saling mengejar di sekitar pinggir pantai. Mungkin ia sedang memilih kalimat
pembuka untuk ceritanya, setidaknya itulah yang dipikirkan Ana saat menunggu
Mia memulai curhatannya.
“Kamu
ingat saat 4 tahun lalu, hari dimana aku memberitahumu bahwa Mama terkena
kanker rahim stadium 2? Saat itu, entah dapat pikiran darimana, aku merasa akan
kehilangan Mama dalam waktu singkat. Kau pasti ingat saat itu kita menangis
bersama karena ceritaku, hingga membuat anak-anak di kelas mengerubungi kita.
Itulah hari dimana aku menampakkan air mataku di depan orang lain, yaaah dan
menjadi tontonan. Sebelumnya aku tak pernah menangis di depan orang banyak.
Aku
begitu takut mendengar vonis itu, Ana. Apalagi aku harus mendengar permintaan
dokter agar mengijinkan Mama untuk rawat inap di rumah sakit. Dan dengan berat
hati dan berbagai pertimbangan demi kebaikan Mama, akhirnya ayah memutuskan
untuk menerima saran dokter. Padahal saat itu aku sangat tahu kondisi keuangan keluargaku. Aku tahu hari itu ayah
menelepon temannya untuk meminta pinjaman uang.
Hari
itu juga untuk pertama kalinya aku melihat Mama tertidur di ranjang rumah
sakit. Hari itu adalah awal dimana aku harus menjadi ibu rumah tangga dan
pelajar sekaligus. Mulai hari itu aku mulai mengambil alih segala pekerjaan
rumah tangga yang biasa dikerjakan Mama. Saat itu aku baru menyadari satu hal,
ternyata Mama itu hebat. Sungguh, pekerjaan ibu rumah tangga itu melelahkan.
Banyak sekali yang harus kukerjakan. Segalanya, tanpa terkecuali, aku
benar-benar mengerjakannya tanpa memilih-milih seperti saat Mama masih sehat.
Berulang kali aku mengeluh karena banyaknya pekerjaan yang harus aku tangani
padahal tugas sekolahku pun belum kuselesaikan. Berulang kali aku merengek
meminta bantuan kepada siapa saja yang ada di rumah agar mau membantuku untuk
mengerjakan sebagian pekerjaan rumah.
Tapi kau tahu apa tanggapan Mama saat itu? Mama berulang kali mendorongku
untuk terus tidak merengek dan mengeluh. Padahal aku tahu Mama sangat merasa
kasihan padaku. Mama mengatakan jika apa yang aku lakukan sekarang akan sangat
berguna untukku kelak. Ternyata perkataan Mama terbukti.
2 bulan
setelahnya kondisi Mama naik-turun. Kadang Mama terlihat sangat sehat, kadang
juga Mama terlihat seperti orang sekarat. Aku, ayah dan keluarga yang lain
berjuang keras mencari pengobatan untuk kesembuhan Mama.
Tepat
menginjak satu tahun Mama divonis soal penyakitnya, akhirnya Mama gugur. Saat
itu kami sekeluarga ada di Bogor, tempat kelahiran Mama. Masih teringat jelas
saat itu keadaan Mama yang sangat memprihatinkan. Mama menjadi sangat kurus,
rambutnya tipis dan wajahnya sangat pucat. Daripada dibilang manusia hidup,
mungkin Mama lebih terlihat seperti mayat. Tapi disaat masa kritisnya tadi,
Mama masih bisa memberiku ceramah panjang, walaupun dengan ucapan
terputus-putus dan suara yang sangat pelan. Bahkan Mama masih bisa mengelus-elus
punggungku hingga aku tertidur. Dan saat itu, aku sangat menyesal karena tepat
saat aku terbangun, Mama menghembuskan napas terakhirnya. Aku terbangun dengan
suara tangisan anggota keluargaku yang kudengar. Didepanku sudah ada Mama yang
tersenyum dalam tidurnya. Aku yang saat itu memeluk tangan Mama menyadari satu
hal. Nadinya tak menunjukkan pergerakan normal. Bahkan aku tak merasakan sama
sekali denyutan itu. Mama pergi tepat saat aku membuka mata.”
Mia
menghembuskan napasnya pelan. Aliran sungai kecil di pipinya mengalir begitu
deras. Tubuhnya bergetar menahan isakan tangis. Kini kepala itu tidak lagi
menengadah menatap langit yang semakin gelap, tapi ditundukkannya sedalam-dalam
ia mampu menunduk.
Ana
langsung merengkuh sahabatnya dalam sebuah pelukan sarat kepedulian. Mereka
menangis bersama hingga airmata saling
membasahi bahu keduanya. Ana tahu betapa sesaknya Mia menahan segala beban
hidupnya. Mia sering bercerita tentang bagaimana susahnya ia membagi waktunya
untuk urusan rumah, sekolah maupun hal lain. Ataupun bercerita soal keluarganya
yang semakin tidak karuan dari hari ke hari. Kadang Ana merasa betapa
memprihatinkan hidup sahabatnya itu.
Mia
bukan berasal dari kalangan atas, juga bukan kalangan bawah. Ia hanya dari
keluarga sederhana. Ayahnya seorang guru SD dan ibunya hanya ibu rumah tangga
biasa. Ia mempunyai satu kakak laki-laki dan seorang adik perempuan. Tepat saat
ibunya divonis terkena kanker rahim, ayahnya baru saja membayar uang kuliah
untuk kakaknya. Belum lagi saat itu tahun ajaran baru untuk Mia dan pastinya
membutuhkan uang yang tidak sedikit, jadilah saat itu kondisi keuangan
keluarganya tidak dalam kondisi baik.
Segala
yang terjadi dikehidupan ini memang kejutan. Entah itu baik, buruk,
menyenangkan atau menyedihkan manusia pasti akan merasakannya. Itulah yang
selalu Ana lihat dari hidup Mia. Mia itu cantik, hatinya begitu lembut, baik
hati dan Mia itu pintar. Ana sama sekali tidak melihat cacat dalam diri Mia
kecuali penyakitnya, asma. Tapi menurut Mia penyakit itu bukan suatu hal yang
dianggap penganggu mengingat asma itu tidak pernah kambuh, itu yang sering
didengar Ana.
Ana
bukanlah orang yang mudah untuk mengungkapkan apa yang ia rasakan kepada orang
lain. Siapapun orang itu, walaupun sudah kenal dekat dengannya. Ia tak menampik
jika apa yang dikatakan Mia tentang dirinya –pura-pura tidak tahu- adalah
benar. Ia mengakui hal itu, ia membenarkan jika sikap kepura-puraannya akan
sangat menyusahkannya dan orang lain. Tapi percayalah, walaupun Ana seperti itu
ia tetap mempedulikan orang-orang sekitarnya, terlebih itu keluarganya dan
Mika.
***
Life is not a movie. Ya,
hidup memang bukan sebuah film. Bukan juga drama maupun sinetron. Hidup adalah
sejarah. Dimana sejarah itulah manusia yang membuatnya, merekamnya dalam
balutan ingatan yang kapan saja bisa dilupakan. Dan sejarah inilah yang menjadi
kejutan dengan tanda tanya besar layaknya kotak pandora maupun harta karun yang
selalu membayangi hidup manusia.
Ana
mengusap wajahnya yang berkeringat. Lagi-lagi mimpi itu datang. Ana tertunduk
diam sambil mengingat-ingat apa yang baru saja dilaluinya dalam tidur. Mimpi
dimana hari itu menjadi hari terakhirnya bertemu Mia sebelum keesokan paginya
Mia ditemukan tak bernafas diatas tempat tidurnya. Senyum indah menghiasi
wajahnya yang pucat, hampir kaku dan dingin. Dibawah tangannya yang terjuntai
di samping tempat tidur, ada sebuah inhaler yang biasa dipakainya saat asma itu menyerang. Dan
semua orang memastikan jika Mia gagal bertahan saat asma kronisnya itu
menyerang.
Aliran
sungai di pipi Ana terbentuk tanpa ia sadari. Ia mengusap pelan matanya yang basah
dengan punggung tangannya. Tangannya tergerak meraih nakas di samping tempat
tidurnya. Ia mengambil secarik kertas berwarna merah muda yang sudah sedikit
lusuh dari dalam lacinya. Kembali air mata itu keluar deras tak terbendung.
Berbagai potongan kejadian di hari itu terus berputar diotaknya laksana roll
film yang terus berputar memperlihatkan setiap isi adegan yang disimpannya.
“Jika aku dilahirkan kembali, aku
ingin merasakan bagaimana rasanya menjadi kupu-kupu.” Ucap Mia.
“Kupu-kupu?”
“Iya, kupu-kupu.” Mia tersenyum
mengiyakan pertanyaan Ana. “…yang berwarna putih.”
“Ah, kau kan suka putih.” Ana menatap
Mia yang berjalan disampingnya. “Tapi kenapa harus kupu-kupu?” Tanya Ana heran.
“Aku tidak tahu. Aku hanya penasaran
bagaimana rasanya hidup sebagai kupu-kupu. Tidak ada alasan khusus.”
“Kau aneh.”
“Memang.” Mia tersenyum kecil pada
Ana.
Ana
terisak pelan dengan kepalanya yang tertunduk. Ia memeluk erat lututnya yang
ikut bergetar karena menahan tangisnya agar tidak semakin pecah. Kertas yang
baru saja diambilnya diremas pelan. Ini bukan bentuk kekesalan, tapi luapan
kesedihan. Kertas itu ia dapatkan saat ia membereskan laci meja Mia.
Kembali,
potongan-potongan kejadian dimasa lalu kembali berputar diotaknya. Tiga hari
pasca pemakaman Mia, untuk pertama kalinya Ana mengunjungi tempat
peristirahatan terakhir Mia. Ana butuh waktu untuk menerima kenyataaan itu. Ia
benar-benar masih tidak percaya sahabatnya pergi secepat ini. Saat itu, ia
selesai berdoa untuk ketenangan Mia dikehidupan barunya. Satu kupu-kupu kecil
hinggap tepat diatas nisan yang mengukir nama Mia. Kupu-kupu kecil berwarna
putih. Saat itu juga Ana berpikir jika Mia sedang menikmati kesenangannya
karena satu impiannya terkabul, yaitu menjadi kupu-kupu berwarna putih.
Ana
memaksakan sebuah senyum simpul diwajahnya. Benar, aku harus bisa
menerimanya, ucapnya dalam hati. Ia meraih kertas yang tadi diremasnya dan
kembali merapikannya walaupun hal itu sia-sia, kertas itu tetap kusut.
“Mia,
sudah 2 minggu kamu pergi. Kuharap kamu baik-baik saja” Ucapnya pelan.
Ana
kembali memejamkan matanya. Tanpa menunggu waktu lama, ia kembali masuk ke alam
tidurnya, membawanya masuk ke dalam suatu ketenangan batin yang sangat ia
harapkan.
Kesunyian ini..
Terkadang
ku rasa pilu
kejamnya
hidup yang ada
Indahnya
hariku yang lalu
Bersandar
pada kasih sayang tanpa lara
Kini
ku mencoba untuk bisa terarah
dalam
tangis yang tak jera pergi
Apa
ku harus terus mengalah
pada
keadaan yanng buatku mati
Indah
menyusut menjadi sunyi
Bagiku
risalah hidup ini yang buatku rentan
Kapankah
kumbang menghampiri
Disaat
aku tersesat bahkan hilang kestabilan
Bantu
aku kumbang yang tak kunjung datang
Hadirmu
kunanti untuk bisa meraih angan
Apakah
hanya jalan kematian?
Aku
ingin hidup riang. .
Kertas itu
masih dipegang Ana. Kertas berisi puisi terakhir yang Mia buat tanpa ia
tunjukkan pada Ana, tidak seperti biasanya saat Mia membuat puisi yang selalu
ditunjukkannya pada Ana. Benar, tak seperti biasanya.
~*~*~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar